Login

Dari Hukum Ke Batik Tulis

Selasa, 06 Desember 2011 14:15

Insan Edukasi, kenalkah Anda dengan Nusjirwan Tirtaamidjaja? Pasti hanya beberapa di antara Anda yang mengenalnya. Tapi kalau saya menyebut Iwan Tirta, apakah Anda mengenalnya? Ya...Iwan Tirta, desainer ternama Indonesia yang berhasil mentransformasi batik dari selembar kain tradisional menjadi gaun indah yang gemerlap. Bagaimana awal mula Iwan Tirta terjun ke dunia batik?

Iwan Tirta, terlahir sebagai Nusjirwan Tirtaamidjaja, tanggal 18 April 1935, di Blora, Jawa Tengah. Ia mempunyai darah campuran Purwakarta, Jawa Barat, dari ayahnya Mr. Moh. Husein Tirtaamidjaja, dan Sumatera Barat dari ibunya yang berasal dari Lintau. Ayahnya adalah seorang anggota Mahkamah Agung RI (1950-1958).

Sebenarnya sejak kecil Tirta ingin menjadi seorang diplomat, walau begitu sang ayah mendorongnya untuk mempelajari ilmu hukum. Tirta mendapat gelar Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia pada tahun 1958. Setelah lulus, dia menjadi guru besar untuk hukum internasional. Kemudian Tirta pindah ke Inggris untuk menempuh pendidikan di London School of Economics dan School of Oriental and African Studies. Pada tahun 1964, dia mendapat penghargaan dari Adlai Stevenson Fellowship untuk belajar ilmu hukum di Universitas Yale di Connecticut. Setelah memperoleh gelar hukum dari Universitas Yale pada tahun 1965, Iwan Tirta pindah ke kota New York di mana ia bekerja di Markas Besar PBB selama beberapa tahun.

Walau sudah mengantongi berbagai gelar di bidang hukum, namun Iwan Tirta tidak menggunakannya sebagai sebuah profesi. Ia meninggalkan New York dan kembali ke Indonesia pada tahun 1970, dan memulai karir sebagai desainer yang menggunakan kain batik tulis tradisional.

Sebagai pendukung batik selama beberapa dekade sebelum kain ini meraih kembali ketenarannya, rancangan-rancangan karya Iwan Tirta mendapat perhatian baik di Indonesia maupun dunia internasional. Dia merancang pakaian batik untuk Presiden AS Ronald Reagan dan Ibu Negara Nancy Reagan pada kunjungan mereka di tahun 1980-an. Karya Tirta mendapat pengakuan dunia pada tahun 1994 saat merancang kemeja batik untuk para pemimpin dunia dalam pertemuan APEC di Bogor. Nelson Mandela termasuk salah satu kliennya.

Secara luas, Iwan Tirta diakui dalam usahanya mempromosikan desain batik dalam industri mode internasional, termasuk majalah-majalah dan peragaan busananya. Walau demikian, meskipun batik telah menemukan kepopuleran barunya, Tirta mengkritik kebangkitan batik di awal abad 21. Secara khusus, dia mengkritik rangkuman produksi massal yaitu batik cetak terhadap kain tulis tradisional. "Masalahnya adalah perusahaan tetap tidak tahu perbedaan antara batik cetak dan tulis. Ini kesalahan kita sendiri. Mereka menyebutnya "ekonomi kreatif", dan itu menjadi kontradiksi. Ketika kata ekonomi turut terlibat, Anda mengurangi semuanya demi uang. Apa yang kita butuhkan sekarang adalah patron yang baik dan berpengetahuan."

Tirta berekspansi dari busana batik ke produk-produk lain yang terinspirasi dari batik dalam tahun-tahun akhir hidupnya. Dia memperkenalkan garis-garis baru keramik dan perkakas perak yang dihiasi desain batik tradisional.

Awal bulan Januari 2010, Tirta bekerja sama dengan Lydia Kusuma Hendra, pemimpin perusahaan keramik PT. Tri Marga Jaya Hutama, untuk meluncurkan ulang PT Pusaka Iwan Tirta, yang bergerak di bidang peralatan makan keramik dengan corak batik. Motif keramik ini disebut Pusaka Maha Karya, dibagi menjadi dua koleksi, yaitu Modang dan Hokokai. Koleksi Hokokai terinspirasi dari batik Hokokai, corak batik yang tercipta di awal tahun 1940-an selama pendudukan Jepang di Indonesia oleh seorang pelukis di Pekalongan, Jawa Tengah, yang mereka sendiri terinspirasi dari kimono. Koleksi Modang didasarkan dari batik yang secara tradisional dipakai oleh keluarga keraton di Yogyakarta.

Iwan Tirta meninggal pada tanggal 31 Juli 2010 di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng Pusat, Jakarta, di usia 75 tahun. Dia menderita diabetes dan beberapa penyakit stroke di tahun-tahun sebelumnya. Iwan Tirta dimakamkan di pemakaman Karet Bivak, Jakarta, dekat makam ibundanya. (ssn)

Diterjemahkan dari en.wikipedia.org

Artikel Yang Berhubungan