Login

5 Hal yang Seharusnya Kita Pelajari Di Sekolah

Jumat, 26 Agustus 2011 13:46

Insan Edukasi, Marty Wilson, seorang pengarang komik terkenal dan pembicara profesional, menulis buku berseri berjudul "What I Wish I Knew". Ia mempelajari apa yang seharusnya telah kita pelajari saat di ruang kelas, namun ternyata tidak. Melalui majalah Reader's Digest Indonesia bulan Oktober 2010, Marty menuliskan bahwa pengetahuan tentang kenyataan memungkinkan Anda mendapatkan nilai terbaik di sekolah, tetapi hal-hal lain yang kita pelajari menentukan kartu rapor yang kita dapat dari kehidupan. Inilah 5 hal yang Marty harap terwujud lebih awal saat di sekolah (dan kehidupan, untuk masalah itu).

1. Kerja keras itu sungguh-sungguh cool.
"Marty memperoleh nilai-nilai bagus di sekolah walaupun dengan usaha yang benar-benar minim. Dia cenderung mengganggu teman-temannya." Mereka mungkin saja memperbanyak kartu rapor TK-ku dan menggunakannya untuk 12 tahun ke depan. Aku benar-benar beruntung dilahirkan dengan IQ yang sangat tinggi. Saat mereka menguji aku, sesungguhnya aku mendapatkan nilai yang lebih baik daripada guruku - aku tahu, aku adalah orang aneh. Ayah pernah berkata bahwa daripada aku menjadi perdana menteri atau hidup di gunung berapi, lebih baik aku mengusap seekor kucing yang berkata "Aku telah menantikanmu, Tuan Bond." Sebagai konsekuensinya, aku adalah "anak bodoh di kelas yang membanggakan diri sendiri secara menyebalkan", yang berpikir tidak akan belajar keras, dan sungguh menyenangkan untuk mengejek teman-teman yang belajar keras.

Sungguh tidak menguntungkan bagiku. Karena telah berhasil melalui tahun-tahun formatif, aku berpikir bahwa keseluruhan hidupku akan sama. Ternyata aku mendapat kegagalan besar di sekolah farmasi, dan atasan pertamaku di perusahaan periklanan dengan sabar memacu diriku yang malas. Ini menyadarkanku bahwa mendapatkan ijasah berstempel - tanpa satu usaha pun - mungkin membuat Anda mendapat gelar, namun tidak membuat Anda memperoleh pendidikan. Ada kartu rapor lainnya, yang disebut karakter Anda, di mana Anda hanya akan mendapat nilai A untuk bekerja di ambang batas melampaui kemampuan Anda, secara murni untuk kepuasan agar dapat berkata "Aku telah melakukan yang terbaik."

2. Sungguh menyehatkan kala kita ditantang.
Anda pasti sering melihat orang tua mencuci tangan anaknya untuk melindungi mereka dari infeksi. Tentu, segera setelah anak-anak itu di luar pengawasan kita, tak terhitung betapa pun banyaknya pembersih tangan yang mampu menghentikan mereka untuk bergelut dan berbagi ingus, kutu rambut, dan serangga yang dapat menyebabkan impetigo (sejenis penyakit kulit yang mudah menular dan disertai bisul-bisul - Red) yang tumbuh di tempat-tempat tak terlihat. Dan ini adalah hal yang bagus. Ini membangun sistem kekebalan mereka dan membuat mereka tetap sehat.

Sama halnya dengan ide-ide baru dan sudut-sudut pandang yang berbeda. Kita butuh untuk tetap mencampur hal-hal baru dan bertemu banyak orang baru dalam kehidupan kita, hanya untuk mempertahankan perspektif atau cara pandang yang sehat. Orang-orang yang tidak pernah aku beri kesempatan di sekolah, berubah menjadi orang-orang besar. Jadi aku ingin berkata kepada diriku sendiri yang saat itu lebih muda, "Jangan cuma berpaut pada teman-temanmu sendiri. Berusahalah untuk berbicara pada orang yang berbeda dari orang-orang pada umumnya. Mereka menantang pemikiranmu dan membuat hidupmu lebih menarik." Jangan mencapai 50 dan tetap hanya mempunyai teman-teman yang sama yang Anda miliki di SMA.

3. Anda dapat belajar dari setiap orang.
Semasa remaja, aku dan sahabat karibku membuang banyak waktu yang seharusnya dapat kami gunakan untuk belajar, yaitu mengungkapkan ketidaksenangan dengan cara menyindir setiap guru yang benar-benar tidak menyukai kami, atau bahkan orang tua kami. Hanya karena guru Geografi Anda memakai kaos yang terlihat mirip dibuat dari potongan kain korden, tidak lantas membuatnya tidak mengetahui apapun.

Aku ingat dulu diajar oleh guru memahat yang pernah menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun di tengah-tengah komunitas suku Aborigin. Dia mungkin sungguh-sungguh mengajar anak ingusan berumur 15 tahun yang menjengkelkan, namun kami menolaknya karena ia mempunyai satu mata yang mengarah ke kanan. Jadi ketika pria malang itu menatap kami dengan marah dan berkata "Kalian di sana. Berdiri!", maka dua siswa berbeda akan melangkah. Saat itu aku merasa sangat lucu, namun kini aku rasa itu memalukan.

4. Kita semua diuji oleh hal-hal berbeda.
Apa yang aku temukan mudah dan menyenangkan mungkin menakutkan bagi Anda. Ini muncul saat aku berbicara kepada seorang perempuan Jerman bernama Karen Goeb, yang mana anak laki-lakinya bernama Jensen, terkurung di kursi roda. Karen berkata bahwa ia terus-menerus kuatir terhadap bagaimana Jensen mengatasi sekolahnya. Sebenarnya ia tak perlu kuatir: Jensen cinta sekolah, dan sekolah juga mencintainya.

Kemudian, suatu hari tanpa disangka-sangka, saat Karen akan menyelamati dirinya, Jensen pulang ke rumah dari sekolah sambil beruraian air mata dan berbicara tentang "sesuatu yang terjadi di kelas sains." Karen lalu bertanya kepada Jensen, "Ada masalah apa? Apakah engkau menyakiti dirimu sendiri? Apakah ada teman yang mengganggumu?" Sambil terisak Jensen menjawab, "Tidak. Beberapa ilmuwan bodoh telah memutuskan bahwa Pluto tidak diijinkan lagi untuk menjadi planet!"

5. Hasil ujian tidak menentukan kehidupan Anda, melainkan sikap kita untuk belajar.
Benar-benar sesuatu yang OK untuk meninggalkan sekolah tanpa mengetahui bahwa potassium permanganate terbakar dengan nyala api ungu. Dengan semua akumulasi pengetahuan yang dimiliki manusia seperti halnya pencarian melalui Google, itu bukan hanya masalah bagaimana nilai-nilai Anda dibandingkan dengan nilai siswa lain, akan tetapi nilai Anda dibandingkan dengan sebaik apa Anda telah dapat melakukannya. Itu adalah kebiasaan dan sikap yang dibentuk oleh seberapa keras Anda menyiapkan diri menghadapi ujian yang akan memberi Anda kehidupan yang Anda inginkan. Aku telah menghabiskan 20 tahun mencoba untuk menemukan apa yang ingin aku lakukan saat aku tumbuh besar. Tapi ternyata baru tahun lalu aku menemukan jawabannya, yaitu "Teruslah berevolusi. Dan tuliskan itu."

Itu sebabnya sekarang aku berterima kasih dengan tulus kepada guru-guruku - khususnya untuk guru yang telah kuperlakukan dengan sangat sembrono - yang telah menunjukkanku apa yang telah dikatakan pakar fisika legendaris Richard Feynman yaitu "kesenangan untuk menemukan sesuatu".

 

~~ Terjemahan bebas dari artikel "What I Wish I Knew About School" yang dimuat Majalah Reader's Digest Indonesia terbitan Oktober 2010.