Login

Denyut Si Jantung Buatan

Selasa, 09 Agustus 2011 13:12

Insan Edukasi, penyakit jantung koroner adalah penyebab utama kematian di Amerika Serikat, sedangkan di Indonesia menjadi masalah penyakit tidak menular ketiga terbesar baik pria maupun wanita. Untungnya, saat ini teknologi kedokteran telah menemukan model jantung buatan yang dapat ditanam secara permanen. Siapakah penemunya?

Robert Koffler Jarvik, penemu jantung buatan pertama yang dapat ditanam secara permanen, lahir di Michigan pada tanggal 11 Mei 1946. Dia menunjukkan bakat di bidang mekanik sejak remaja, setelah menemukan sejumlah perangkat yang berguna sebagai alat penjepit bedah dan peralatan medis lainnya.

Pada tahun 1964, Jarvik adalah mahasiswa di Universitas Utah. Ayahnya menderita penyakit jantung dan harus menjalani operasi pembedahan jantung terbuka. Itulah saat di mana Jarvik mengetahui bahwa banyak pasien penderita jantung membutuhkan transplantasi jantung. Di beberapa kasus, bagaimanapun, penyakit jantung begitu kejam sehingga pasien tidak dapat bertahan hidup menunggu datangnya jantung donor. Dalam upaya membantu pasien agar dapat hidup selama mungkin dengan jantung yang mereka miliki, para ilmuwan medis telah mulai mengembangkan perangkat elektronik seperti defibrillator, alat pacu jantung, dan model-model jantung buatan.

Pada saat itu Jarvik menjadi sangat tertarik dengan ilmu kedokteran, dan dia mulai berpikir mengenai desain-desain yang mungkin untuk jantung buatan sehingga dapat membantu orang-orang seperti ayahnya. Dia memutuskan untuk pergi ke sekolah kedokteran. Dia lulus dengan gelar MD pada tahun 1976 dari Universitas Utah.

Pada pertengahan '70-an, beberapa desain jantung buatan telah dibuat. Pada pertengahan '50-an, Dr. Paul Winchell mematenkan sebuah jantung buatan. Tahun 1957, sebuah tim ilmuwan, dipimpin oleh Willem Kolff, seorang dokter kelahiran Belanda, menguji model tersebut kepada hewan-hewan untuk mengidentifikasi masalah. Model lain diuji pada tahun 1969 oleh sebuah tim yang dipimpin oleh Texas Heart Institutes Denton Cooley, yang menyimpan seorang pasien manusia untuk tetap hidup selama lebih dari 60 jam. Para dokter dan ilmuwan kemudian mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk menciptakan model jantung permanen yang dapat ditanam, daripada model yang bersifat sementara.

Pada tahun 1982, desain permanen Jarvik adalah yang pertama dari jenisnya. Dia menyebut jantung buatannya itu dengan Jarvik-7. Terbuat dari poliester dakron, plastik, dan aluminium, Jarvik-7 mempunyai sistem daya internal yang mengatur pompa melalui sistem kompresi selang udara yang masuk ke jantung melalui dada. Selang udara itu dihubungkan ke kamar-kamar. Sistem daya jantung mengemudikan pompa, yang memompa darah melalui tubuh pasien. Jarvik dan timnya menguji perangkat tersebut pada sapi dan hewan lainnya, untuk memastikan bahwa jantung secara konsisten dapat berdenyut setidaknya sebanyak 100 ribu kali dalam sehari. Segera, model ini siap untuk diuji pada manusia.

Pada tahun 1982, pasien pertama, seorang dokter gigi dari Seattle, Barney Clark, hidup selama 112 hari setelah Jarvik-7 ditanamkan ke rongga dadanya dalam operasi yang berlangsung selama 7,5 jam. Ahli bedah William DeVries dari Universitas Utah melakukan operasi pembedahan itu. Clark, yang karena berbagai alasan medis tidak menjadi kandidat untuk operasi transplantasi itu, tidak pernah dapat meninggalkan rumah sakit. Sistem itu sangat terbuka untuk terjadinya infeksi, sehingga Clark, dan penerima Jarvik-7 berikutnya, jatuh sakit. Para pasien harus tetap dipasangi pengencer darah untuk mencegah terjadinya pembekuan dan stroke. Clark meninggal karena kegagalan organ secara berganda, namun Jarvik-7 tetap berdenyut saat ia meninggal.

Setelah operasi pada Clark, jantung model Jarvik-7 ditanamkan berkali-kali. Rekor karena telah ditopang jantung buatan dipegang oleh William Schroeder, yang tersambung ke Jarvik-7 pada tahun 1985. Dia hidup selama 18 bulan meskipun ia menderita stroke, perdarahan tiba-tiba, dan infeksi menjelang hari-hari terakhirnya.

Pada akhir '80-an, sekitar 70 peralatan Jarvik telah ditanamkan untuk mempertahankan pasien selama menunggu transplantasi. Sejak itu, pengembangan jantung buatan terus ditingkatkan. Hari ini, peralatan yang dibuat oleh perusahaan seperti Thoratec, Medquest, Baxter Novacor, Abiomed, dan lain-lain telah membantu ribuan orang yang menderita penyakit jantung. Para ilmuwan terus bekerja untuk merancang sebuah jantung buatan yang mampu memberikan pilihan secara permanen dan tetap untuk kelangsungan hidup. Jarvik sekarang sedang mengerjakan Jarvik 2000, sebuah pompa jantung seukuran ibu jari.(ssn)